Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil Bersiap, Bima Arya Mulai Bergerak

 


Dedi Mulyadi, dan Ridwan Kamil yang merupakan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi Pilkada Jawa Barat (Jabar) 2024. Meskipun Dedi menyatakan tidak bersaing langsung dengan Kamil, ia tidak menutup mata bahwa meyakinkan warga dan partai politik (parpol) untuk memilih dirinya adalah langkah krusial. Kedua tokoh ini berasal dari parpol anggota Koalisi Indonesia Maju (KIM), yang sebelumnya sukses mengusung pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dalam Pemilihan Presiden 2024. Kini, koalisi tersebut berupaya untuk kembali berkoalisi pada Pilkada di sejumlah daerah, termasuk Jabar.

Dukungan parpol koalisi sangat penting mengingat Partai Gerindra, yang menaungi Dedi, tidak dapat mengusung calon secara mandiri. Dengan 20 kursi DPRD Jabar yang diraih pada Pemilu 2024, Gerindra belum memenuhi ambang batas pencalonan kepala daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada, yang mensyaratkan 24 kursi. Oleh karena itu, Gerindra memerlukan dukungan dari parpol lain untuk mencalonkan kandidatnya.

Hingga saat ini, KIM belum memutuskan siapa yang akan diusung sebagai calon gubernur Jabar. Koalisi yang terdiri dari delapan parpol tersebut memiliki sejumlah kandidat potensial, termasuk Dedi dari Gerindra, Kamil dari Golkar, dan Bima Arya dari Partai Amanat Nasional (PAN). Dari ketiga kandidat tersebut, Kamil memiliki elektabilitas tertinggi. Beberapa elite Golkar mendorong Kamil untuk maju di Pilkada Jabar, meskipun ada juga yang menginginkannya bertarung di Pilkada Jakarta. Sementara itu, Bima Arya yang juga Wali Kota Bogor 2014-2024, sedang berusaha meningkatkan dukungan dari publik dan parpol lain, meskipun tingkat keterpilihannya masih di papan tengah.

Bima Arya telah mengambil langkah awal dengan mengembalikan formulir ke partainya sebagai syarat wajib untuk maju menjadi calon gubernur. "Saya mulai bergerak dari Jawa Barat dan yang pertama dilakukan pasti prosedur internal partai. Makanya, saya sudah mengembalikan formulir ke partai sebagai syarat wajib untuk maju menjadi calon gubernur. Saya juga sudah membangun komunikasi dengan semua pimpinan partai di daerah. Misalnya, Kang Ono Surono (Ketua DPD PDI-P Jawa Barat) dan Golkar," kata Bima Arya (Kompas, 21/5/2024).

Dedi juga menyatakan bahwa beberapa parpol di luar KIM, seperti PDI-P dan Partai Nasdem, menunjukkan ketertarikan untuk mendukungnya di Pilkada Jabar 2024. Hal ini memberikan semangat lebih baginya untuk maju dalam pilkada, meskipun ia pernah gagal saat menjadi cawagub Jabar pendamping Deddy Mizwar pada Pilkada Jabar 2018. Namun, menurut Dedi, kekuatan koalisi bukanlah satu-satunya penentu dalam pertarungan. "Jumlah partai tidak begitu menentukan pada kemenangan, karena ketika sudah menjadi kandidat calon kepala daerah, itu sudah pada personal, bukan lagi ke partai," ujarnya.

Dengan masih belum adanya keputusan resmi dari KIM, persaingan antar kandidat potensial dalam internal koalisi semakin ketat. Semua kandidat berusaha untuk mendapatkan dukungan sebanyak mungkin dari parpol dan masyarakat. Pilkada Jabar 2024 diprediksi akan menjadi salah satu kontestasi politik paling menarik di Indonesia, mengingat pentingnya wilayah ini dalam peta politik nasional.