by

Anggota DPRD Jabar Minta Mahasiswa Sampaikan Kebenaran

Aksi unjuk rasa mahasiswa dinilai sebagai tugas mulia. Oleh karenanya, para mahasiswa diminta tidak takut dalam menyampaikan kebenaran. Namun, sebelum disampaikan, aspirasi tersebut harus disertai analisa yang kuat.

Penilaian tersebut disampaikan anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Arif Hamid Rahman saat menjenguk salah satu korban aksi unjuk rasa di kawasan Gedung DPRD Jabar di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, yang berakhir ricuh.

Korban yakni Rifka Khoirunnisa (22), mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung. Dia harus menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) Sariningsih Kota Bandung setelah dua hari berturut-turut mengikuti aksi unjuk rasa, Senin-Selasa 23-24 September 2019 yang berakhir ricuh.

Anggota DPRD Jabar dari Partai Gerindra itu berbincang hangat dengan Rifka terkait kronologis kericuhan pascaaksi massa yang menuntut DPR RI mencabut kembali RUU KUHP, RUU Pemasyarakatan, RUU PKS, RUU Pertanahan, dan RUU KPK.

Dalam kesempatan itu, Arif pun memberikan pesan semangat kepada para mahasiswa yang getol menuntut kebenaran. Menurut Arif, tindakan tersebut merupakan tugas mulia bagi mahasiswa dalam menyuarakan aspirasi masyarakat.

“Jangan pernah takut untuk menyampaikan suatu kebenaran. Namun, harus dilandasi dengan analisa yang kuat agar apa yang menjadi kebutuhan masyarakat dan mahasiswa bisa tersampaikan,” tegas Arif, Kamis (26/9/2019).

Dia menambahkan, menyusul banyaknya aksi unjuk rasa mahasiswa belakangan ini, dia merasa kembali ke tahun 1998 saat dirinya masih menjadi mahasiswa yang selalu lantang menyuarakan aspirasi, sama seperti yang disuarakan oleh mahasiswa saat ini.

“Saya ikut prihatin, rasa kemanusiaan saya terpanggil karena saya pernah merasakan hal yang sama pada saat mahasiswa dulu,” katanya.

Sementara itu, Rifka mengapresiasi kedatangan wakil rakyat yang telah menjenguknya. Dia lantas menceritakan kronologis kejadian pada saat aksi hingga akhirnya harus dirawat di RS.

“Saya masuk rumah sakit sekitar jam 17.00 WIB saat massa aksi dipukul mundur di hari terakhir. Gas air mata yang ditembakan polisi banyak sampai akhirnya terhirup. Saya muntah-muntah, sesak, dan kemudian pingsan di lokasi aksi,” tutur Rifka.

Untuk diketahui, massa aksi yang terdiri dari mahasiswa, masyarakat, buruh, dan elemen lainnya menggelar aksi penolakan RUU KUHP, RUU PKS, RUU KPK, RUU Pertanahan, dan RUU Pemasyarakatan.

Unjuk rasa yang digelar dua hari berturut-turut itu digelar serentak di berbagai daerah Indonesia. Di Kota Bandung, aksi difokuskan di depan Gedung DPRD Jabar. Massa aksi yang merangsek masuk ke Gedung DPRD Jabar dipukul mundur oleh aparat kepolisian dan korban pun berjatuhan.